Kabur atau Membangun? Dilema Generasi Muda dalam Mencintai Negeri
Krisis Nasionalisme di Kalangan Anak Muda Indonesia
Di era digital seperti sekarang, nasionalisme di kalangan anak muda Indonesia semakin memudar. Fenomena seperti #KaburAjaDulu menunjukkan bagaimana banyak generasi muda lebih memilih meninggalkan Indonesia daripada berjuang membangun negara ini. Padahal, generasi sebelumnya telah berjuang keras untuk kemerdekaan, tetapi kini justru dijajah oleh mentalitas warganya sendiri.
•Kurangnya Kesadaran Nasionalisme
Sebenarnya, pendidikan nasionalisme sudah diajarkan di sekolah. Namun, banyak anak muda yang lebih fokus pada hal lain, seperti pacaran, gaya hidup konsumtif, atau bahkan mengejar tren yang tidak membawa manfaat bagi bangsa. Mereka tidak memahami bahwa jika negara ini hancur, generasi muda lah yang seharusnya memperbaikinya.
•Pengaruh Media Sosial dan Mindset Konsumtif
Media sosial berperan besar dalam membentuk pola pikir generasi muda. Sayangnya, alih-alih digunakan untuk memperkaya wawasan, media sosial justru menjadi ajang flexing dan ajakan untuk meninggalkan tanah air. Mindset konsumtif juga semakin menonjol, di mana banyak yang lebih bangga dengan budaya luar dibandingkan budaya sendiri. Bahkan ketika ada anak bangsa yang berprestasi, justru lebih banyak haters daripada dukungan.
•Kurangnya Kesempatan atau Kurangnya Kemauan?
Banyak yang beralasan bahwa di Indonesia sulit berkembang, sehingga lebih baik mencari kehidupan di luar negeri. Padahal, jika mereka benar-benar memiliki kualitas dan kemauan untuk maju, mereka bisa berkontribusi di dalam negeri. Indonesia membutuhkan orang-orang berpendidikan tinggi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap bangsanya.
•Solusi: Menanamkan Kembali Jiwa Nasionalisme
Jika situasi ini dibiarkan, Indonesia hanya akan semakin tertinggal. Beberapa langkah yang bisa diambil untuk menanamkan kembali nasionalisme di kalangan anak muda adalah:
1. Menyisipkan pelajaran nasionalisme di berbagai aspek pendidikan, seperti diskusi terbuka tentang kondisi negara dan cara memperbaikinya.
2. Membangun komunitas yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, di mana anak muda bisa belajar dan memahami pentingnya membangun negeri.
3. Mengajarkan toleransi dan kebhinekaan, agar mereka sadar bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan untuk bersatu
4. Membuka lebih banyak peluang kerja dan inovasi, agar generasi muda tidak merasa perlu meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih baik.
Kesimpulan
Meninggalkan negara bukan solusi untuk memperbaiki kehidupan. Jika semua anak muda berpikir seperti itu, siapa yang akan membangun Indonesia? Daripada mencari kenyamanan di luar negeri, mengapa tidak mencoba menciptakan perubahan di dalam negeri? Mungkin butuh waktu lama, tapi perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Komentar
Posting Komentar